Skip to main content

ulang tahun dan berduka cita

selamat ulang tahun dan berduka cita atas meninggalnya. 

  Kita sering kali mendengar bahkan pernah diantaranya mengucapkan kedua kalimat tersebut. Namun masih sedikit dari kalangan kita mengerti esensi ataupun makna yang terkandung didalamnya, sehingga terdapat kejanggalan atau ketidakcocokan antara subjek dengan objek jika, menggunakan logika kita untuk menafsirkan nya.
  Sebagai contoh yang pertama "selamat ulang tahun" kalimat ini mungkin di tunjukan untuk si orang yang telah bertambah umur dalam konteks angka namun bukan dalam konteks garis atau masa hidupnya di bumi. Bagaimana mungkin seseorang memberkan selamat(gembira) atas berkurang nya umur seseorang yang lain. Mungkin alangkah baiknya seperti begini "saya turut berduka atas berkurangnya 1 tahun kesempatan hidup di dunia ini". Lantas mengapa dirayakan dengan berpesta dan hura-hura. Alangkah baiknya digunakan untuk bermunajat kepada-Nya agar di beri sisa usia yang barokah dan manfaat. 
  Lalu kalimat "berduka cita atas kematian" mungkin kalimat ini sedikit berbeda dangan kalimat sebelumnya, terkesan wajar-wajar saja kita mengucapkannya atau sekedar ikut2 an saja seperti di grup chat sosial media atau yang lainya. Memang tidak ada yang salah dalam pengucapan kalimat ini. Namun secara hakikat kurang tepat. Mungkin kalimat ini mewakili rasa simpati ataupun rasa empati kita terhadap si Keluarga alm/h yang bersangkutan. Namun tidaklah disadari diantara kita bahwa tidak hanya rasa simpati yang dibutuhkan si mayit namun juga do'a atas keselamatannya kelak menempuh alam baru, etisnya kalimat yang tepat sebagai berikut "semoga almarhum/h diberikan keselamatan di alam kuburnya".-AnB


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

hanya memberi sisa

Mengapa kita sering habis habisan mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, biaya, hati untuk mencari cinta manusia. Makhluk yang tak berdaya yang tak bisa menguasai hatinya sendiri dan pasti kan tiada. Atau untuk mengajar duniawi yang pasti kita tinggalkan. tapi kita tidak habis habisan memburu cinta Allah. Penguasa semesta alam, yang nyatanya sudah menciptakan, menghidupkan, menjamin, dan mengurus diri kita setiap saat walaupun kita lalai kepada Nya mengapa kepada DIA hanya memberi sisa Shoat hanya sisa waktu kesibukan. dzikir hanya sisa waktu mengobrol. Menyebut namanya hanya sisa waktu dari menyebut harta orang lain. baca AL Quran hanya sisa waktu dari membaca koran, sms dan chating di internet. Sedekah hanya sisa dari pemikiran duniawi saja. Hati untuk Nya hanya sisa dari hati yang di penuhi cinta kepada manusia yang lain. akankah kita memberikan Rabb dengan sisa sisa kesibukan saja Rab yang mengasihimu merawat dan memeliharamu mana bukti cintamu. . . .? hanya sisa itukah...

Thalhah bin Ubaidhilah

Thalhah adalah sahabat Nabi yang berbadan tinggi dan kekar, beliau masuk islam setelah berjumpa dengan pastor yang sedang mencari Nabi SAW. Menurut pastor yang itu sudah saatnya nabi yang disebut dalam kitab injil itu tampil menyebarkan ajaranya. Mendengar hal itu Thalhah langsung pulang menemui pamannya, Abu Bakar as sidiq untuk ikrar masuk Islam. Thalhah masuk Islam setelah sahabat Usman bin Affan dan tercatat sebagai satu diantara 8 orang yang memeluk Islam pertama. Thalha h dikenal sebagai orang yang kaya dan dermawan, ia pernah bertanya pada istrinya "isteriku, kita pergunakan apalagi harta kita" istrinya menjawab."berikan kepada fakir miskin" kemudian keesokan harinya semua hartanya telah habis di sedekahkan. Thalhah wafat dalam perang uhud, saat itu ia melompat melindungi Rasul, merangkul dengan tangan kirinya dan tangan kanan memegang pedang sambil diacungkan. Ia ingin menjadi tameng Nabi dari serbuan anak panah kaum qurays. Saat itu kaum kafir bersorak,...